Tuesday, 3 February 2009

Mencari Cara Mencintai Kota Bandung

Oleh: HERMAN HERMIT

Perdefinisi, kota Bandung adalah kota metropolitan, lantaran dia sudah dimukimi oleh lebih satu juta orang. Perlogika sejarah, kota Bandung sudah tua, sudah senja dan bau tanah, ibarat manusia yang telah berumur lewat separuh abad seperti saya alias over seket (50). Kawasan tumbuh menjadi kota kecil, lantas kota menengah, terus jadi kota besar, selanjutnya jadi kota metropolitan, terus (bisa) musnah alias mati seperti diperlihatkan oleh sejarah kuno Romawi dan Yunani mengenai the lost city. Nah, sebelum kota Bandung wafat, mari kita labuhkan cinta kita untuk kota Bandung.
Banyak cara kita mencintai kota Bandung. Mulai dari merawat kebersihan selokan di depan rumah secara rutin hingga memberikan keramahan kepada pengunjung dari luar kota yang menghabiskan uang sakunya pada waktu akhir pekan atau liburan di Bandung. Jadi, memberikan masukan atau kritikan kepada Kang Dada hanya salah satu cara saja dalam kita mencintai Bandung.
Yang jelas, pantas bagi saya untuk lebih dari sekedar mencintai kota Bandung. Dua pertiga umur saya hingga saat ini dihabiskan di Bandung. Semua anak, mantu dan cucu saya lahir di Bandung. Oalah, bagaimana bisa saya tidak mencintai Bandung. Mungkin sisa umur saya pun akan dihabiskan di Bandung. Oleh karena itu, bagaimana bisa saya tidak merasa malu untuk tidak berterima kasih kepada kota Bandung.
Saat saya belajar seni teater dari Kang Suyatna Anirun (alm) di Studiklub Teater Bandung (STB) tahun 1980-an di Gedung Kesenian Rumentang Siang saya dapat penghargaan sebagai siswa terbaik untuk pelajaran dramaturgi. Saya kira, gara-garanya cuma karena saya terbilang rajin menyampaikan secara langsung kritikan kepada guru saya itu, bahwa naskah-naskah adaptasian dari lakon asing yang biasa dimainkan STB sebaiknya sesekali diberi ruh persoalan urban kota Bandung. Sebaiknya begini, begini, begini, dst. Bagaimana pun STB lahir dan besar di Bandung. Jangan seperti ITB (Institut Teknologi Bandung) yang waktu itu tega banget membiarkan planologi kota Bandung tidak karu-karuan.
Apakah sekarang ruh kota Bandung masih kurang mendapat perhatian kita semua yang selayaknya sudah mencintai Bandung? Bagi Anton De Sumartana mungkin jawabannya adalah Ya, dan karenanya dia bermaksud menerbitkan buku kumpulan puisi Senandung Bandung Jilid 2. Bagi salah seorang mantan mahasiswa saya yang membuat skripsi perihal nilai tanah kota Bandung, jawabannya juga Ya. Ruh kota Bandung kurang mendapat perhatian kita dari sudut planologisnya. Katanya, nilai tanah di kota Bandung menjadi hanya bisa dinikmati oleh para penguasa informasi pasar tata kota. Para penguasa informasi planologis kota Bandung inilah, menurut si mantan mahasiswa saya tadi itu, yang memainkan nilai tanah di kota bandung sekaligus menjadikan planologis kota Bandung tidak pernah kunjung membaik, meskipun rencana tata ruang kota Bandung bolak-balik direvisi terus. Memangnya siapa saja mereka itu? Mungkin Kang Dada lebih mengetahui persisnya ketimbang saya. Yang jelas, mereka itu makelar tata kota dan makelar investasi yang menjadikan perizinan-perizinan pemanfaatan tanah/ruang sebagai komoditas unggulan dan ajang spekulasi. Dengan menggunakan teori ini maka saya pesimis kalau kawasan Gedebage bisa terwujud menjadi pusat kota kedua dalam kota Bandung kelak. Sebab mereka, para makelar investasi hingga saat ini masih kerasan mengotak-katik kecerdasannya untuk kawasan utara kota Bandung. Jelas, selama konsentrasi investasi mengarah ke kawasan utara maka ruh planologis Bandung masih sakit.
Kembali ke cinta. Lantas apa hubungannya dengan ekspresi cinta kita kepada kota Bandung sebagai warga kota yang biasa-biasa saja dengan urusan ruh planologis kota Bandung yang masih sakit itu? Ada, beberapa hal, walaupun tidak tersedia banyak pilihan bagi kita mengenai hal ini. Pertama, ingatkan terus Kang Dada via sms ke Tribun Jabar, bahwa tata kota kita masih tidak karu-karuan berdasarkan yang kita lihat dan kita rasakan saja dalam menjalani kehidupan di kota Bandung. Contoh paling sederhana, mengapa perampasan hak keleluasaan dan keselamatan pejalan kaki di trotoar tidak pernah berhasil diselesaikan oleh para penjaga gawang tata kota? Juga perampasan hak keleluasaan dan keamanan kanak-kanak kita bermain di taman-taman lingkungan dalam kompleks perumahan masih saja dibiarkan berlangsung oleh para penjaga gawang rencana tata ruang kota?
Kedua, bantu Kang Dada dengan cara kita menaati segala aturan Pemda (Keputusan Walikota dan Peraturan Daerah Kota) tentang ketertiban dan keamanan lingkungan. Contoh, mari kita urunan membuat Bill Board di tiap lingkungan RW kita yang berisikan ringkasan informasi dari peraturan mengenai apa yang seharusnya dan apa yang dilarang kita perbuat terhadap lingkungan, seperti larangan untuk memperlebar bangunan ke atas saluran air hujan belakang rumah (branhang) atau larangan menghabiskan jatah tetangga untuk memperoleh sinar matahari pagi, dst, dst.
Ketiga, ramah kepada wisatawan yang baik, sebab kelihatannya masa depan ekonomi kota Bandung akan semakin tertolong dengan kehadiran mereka. Terlalu banyak contoh kota yang tertolong oleh sektor pariwisatanya saat kota tak lagi punya sumberdaya alam yang berarti, seperti Singapura dan Paris.
Keempat, kita bisa mencari cara sendiri mengekspresikan sikap cinta kita terhadap kota Bandung, sesuai kemampuan kita, paling tidak mencari alasan untuk memperpanjang umur kota Bandung buat kehidupan cucu cicit kita mendatang.*
(Sumber: Herman Hermit, 2008, TRIBUN JABAR edisi Sabtu 27 September 2008 halaman 5)

No comments:

Post a Comment